Malam Lailatul Qadar dan Distraksi Digital
Ramadhan mengajarkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan makanan bagi tubuhnya, tetapi juga cahaya bagi jiwanya.
BONDOWOSO – Di banyak rumah pada malam-malam terakhir Ramadhan, lampu masih menyala. Telepon genggam berada di tangan. Layar-layar kecil memancarkan cahaya biru yang tak pernah benar-benar padam.
Percakapan digital, hiburan singkat, dan arus informasi terus mengalir tanpa jeda. Ironisnya, pada saat yang sama umat Islam sedang berada pada fase paling sakral dari bulan Ramadhan: mencari malam Lailatul Qadar, malam yang oleh Al-Qur’an disebut lebih baik dari seribu bulan.
Dalam kenyataan sosial, malam agung itu sering kali hanya hadir sebagai pengumuman keagamaan. Ia disebut dalam ceramah, ditulis dalam spanduk, bahkan menjadi tema khutbah di berbagai tempat. Tetapi bagi sebagian manusia modern, malam itu tidak lagi dicari dengan kesungguhan sebagaimana yang dicontohkan Nabi.
Perhatian manusia telah direbut oleh sesuatu yang lain: distraksi digial yang tidak pernah berhenti. Padahal Al-Qur’an menegaskan: dalam surat Al Qodr (lailatul qodar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan).
Ayat ini bukan sekadar informasi teologis. Ia adalah panggilan spiritual. Sebuah undangan agar manusia memasuki ruang keheningan yang memungkinkan hatinya bertemu dengan Tuhan. Namun panggilan itu sering kalah oleh kebisingan zaman.
Dalam pandangan ulama klasik, puasa bukan sekadar kewajiban ritual. Ia adalah pendidikan jiwa. Ulama besar seperti Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa memiliki beberapa lapisan makna. Puasa yang paling dasar adalah menahan lapar dan dahaga.
Puasa yang lebih tinggi adalah menjaga seluruh anggota tubuh dari dosa. Sedangkan puasa yang paling dalam adalah puasa hati: ketika manusia mampu membebaskan dirinya dari keterikatan pada dunia dan memusatkan seluruh kesadarannya kepada Tuhan.
Dalam perspektif ini, Ramadhan sebenarnya adalah proses penyucian batin yang berlangsung selama sebulan penuh. Dan puncak dari perjalanan spiritual itu adalah Lailatul Qadar.
Seorang sufi besar, Ibn Ata Allah al-Iskandari, pernah menulis bahwa amal yang kecil bisa menjadi besar karena keikhlasan, dan amal yang besar bisa menjadi kecil karena kelalaian hati. Kalimat ini mengingatkan bahwa kemuliaan Lailatul Qadar tidak hanya terletak pada waktunya, tetapi pada kedalaman kesadaran manusia ketika mencarinya.
Tantangan terbesar umat manusia hari ini bukan hanya perubahan teknologi, tetapi perubahan cara manusia memperhatikan dunia. Pemikir media modern Marshall McLuhan pernah mengatakan bahwa media bukan sekadar alat komunikasi; ia membentuk cara manusia berpikir dan memandang realitas.
Di era digital, perhatian manusia terus-menerus diperebutkan oleh berbagai platform informasi. Notifikasi, video pendek, dan arus berita membuat manusia hampir tidak pernah benar-benar berhenti. Akibatnya, kemampuan manusia untuk hening semakin melemah. Padahal dalam tradisi spiritual Islam, keheningan memiliki makna yang sangat penting.
Penyair sufi besar Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa dalam kesunyian, manusia dapat mendengar kebenaran yang tidak pernah terdengar dalam keramaian. Lailatul Qadar hanya dapat dirasakan oleh hati yang hening. Namun keheningan justru menjadi sesuatu yang semakin langka dalam kehidupan manusia modern.
Yang lebih ironis, manusia modern sering tidak menyadari bahwa kelelahan yang ia rasakan sebenarnya diciptakan oleh dirinya sendiri. Ia terus mengejar informasi, merespons notifikasi, mengikuti arus yang sedang viral, seakan-akan takut tertinggal oleh zaman yang bergerak semakin cepat.
Di era yang kini sering disebut sebagai zaman kecerdasan buatan atau era AI, manusia justru berisiko kehilangan kecerdasan batinnya sendiri. Ia menjadi sibuk tanpa henti, lelah tanpa sebab yang jelas, dan perlahan terputus dari ruang keheningan yang sesungguhnya menjadi sumber ketenangan jiwanya.
Dalam keadaan seperti itu, manusia bukan hanya jauh dari keheningan, tetapi juga semakin jauh dari dirinya sendiri dan pada saat yang sama, semakin jauh dari Tuhan yang seharusnya menjadi pusat orientasi hidupnya.
Dalam tradisi pesantren, sepuluh malam terakhir Ramadhan selalu diperlakukan dengan cara yang sangat berbeda. Banyak kiai dan santri memilih untuk melakukan i’tikaf di masjid, mengurangi percakapan yang tidak perlu, dan memperbanyak membaca Al-Qur’an.
Malam-malam itu sering diisi dengan dzikir yang panjang, doa yang lirih, dan keheningan yang dalam. Para ulama pesantren sering mengatakan bahwa Lailatul Qadar tidak selalu dikenali oleh tanda-tanda langit, tetapi oleh perubahan hati manusia.
Ketika hati tiba-tiba menjadi lembut, air mata mudah jatuh dalam doa, dan jiwa merasakan kedamaian yang tidak biasa, para ulama sering mengatakan bahwa mungkin seseorang sedang disentuh oleh rahmat malam kemuliaan. Di situlah Lailatul Qadar tidak lagi hanya menjadi konsep teologis, tetapi pengalaman spiritual yang hidup.
Banyak pemikir modern melihat bahwa manusia kontemporer sedang mengalami krisis makna. Cendekiawan Muslim seperti Seyyed Hossein Nasr menyebut bahwa krisis terbesar dunia modern adalah krisis spiritual ketika manusia kehilangan hubungan mendalam dengan sumber makna dalam hidupnya.
Di Indonesia, pemikir seperti Nurcholish Madjid juga pernah menegaskan bahwa ibadah dalam Islam bukan sekadar kewajiban formal, tetapi sarana untuk membentuk kesadaran moral dan spiritual manusia. Ramadhan sebenarnya adalah terapi spiritual bagi manusia modern.
Namun terapi itu hanya bekerja ketika manusia benar-benar hadir dengan kesadarannya. Jika malam-malam Ramadhan dihabiskan dalam distraksi digital yang tidak pernah berhenti, maka ruang spiritual yang seharusnya lahir dari Ramadhan dapat perlahan menghilang.
Baca juga
Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ia adalah simbol dari pencarian manusia terhadap cahaya ilahi di tengah kehidupan yang penuh dengan distraksi.
Di zaman digital yang bising, pencarian ini memang menjadi lebih sulit. Tetapi justru karena itu ia menjadi semakin penting. Ramadhan mengajarkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan makanan bagi tubuhnya, tetapi juga cahaya bagi jiwanya.
Dan mungkin di salah satu malam yang sunyi, ketika manusia berani melepaskan dirinya sejenak dari kebisingan dunia, menutup layar-layar yang memikat perhatiannya, lalu menengadahkan tangan dengan hati yang tulus di situlah Lailatul Qadar mungkin sedang mendekat. Bukan sebagai pengumuman yang didengar telinga, tetapi sebagai cahaya yang dirasakan oleh hati.
***
*) Oleh : Saifullah, KaProdi HKI IAI Darul Falah Bondowoso dan Mahasiswa S3 Prodi Studi Islam UNUJA Paiton Probolinggo.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


