Mengenal Tradisi Bibien Warga Bondowoso di Malam Ganjil 10 Hari Terakhir Ramadan
Tradisi Bibien di Desa Sulek Kabupaten Bondowoso yang dilaksanakan di malam ganjil 10 hari terakhir Ramadan (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)

Mengenal Tradisi Bibien Warga Bondowoso di Malam Ganjil 10 Hari Terakhir Ramadan

Warga Muslim di lereng Gunung Raung, tepatnya di Desa Sulek, Kecamatan Tlogosari, Bondowoso, memiliki tradisi khas Ramadan yang disebut Bibien.

TIMES Bondowoso,Senin 16 Maret 2026, 14:46 WIB
190
M
Moh Bahri

BONDOWOSOWarga Muslim di lereng Gunung Raung, tepatnya di Desa Sulek, Kecamatan Tlogosari, Bondowoso, memiliki tradisi khas Ramadan yang dikenal dengan sebutan Bibien. 

Tradisi ini digelar pada malam-malam ganjil mulai 25 Ramadan, yang dalam istilah Madura disebut malam lekoran.

Bibien merupakan kegiatan berbagi makanan berupa nasi lengkap dengan lauk sederhana seperti urap kelapa, sambal, tempe, tahu, dan ikan teri. 

Seluruh hidangan tersebut dibungkus menggunakan daun pisang atau daun jati, mencerminkan kearifan lokal yang ramah lingkungan.

Menurut Pemilik Komunitas Rumah Lajer Pote di Desa Sulek, Ahmad Taufik, awalnya tradisi ini dilakukan secara mandiri oleh masing-masing kepala keluarga.

Namun dalam tiga tahun terakhir, warga mulai menggelarnya secara bersama-sama melalui Festival Bibien sebagai upaya pelestarian budaya sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda.

Pelaksanaan tradisi diawali dengan pengumpulan bahan makanan dari hasil bumi warga, seperti beras, sayuran, kelapa, hingga daun pembungkus. Sebagian kebutuhan lain, seperti tahu dan tempe, diperoleh dari pasar melalui swadaya masyarakat.

“Proses memasak dilakukan secara gotong royong sejak pagi hari, melibatkan laki-laki dan perempuan. Kaum pria turut ambil bagian dalam pekerjaan seperti mengupas kelapa dan menyiapkan bahan masakan,” katanya. 

Setelah makanan siap, warga bersama-sama membungkus nasi sebelum menggelar doa khusus yang disebut Khososan Rem Kerem, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. 

Usai doa, bungkusan Bibien dibagikan ke masyarakat, bersamaan dengan penyaluran zakat fitrah tanpa menggunakan plastik.

Bagi masyarakat setempat, malam-malam ganjil di akhir Ramadan diyakini sebagai waktu yang dekat dengan datangnya Lailatul Qadar. 

“Karena ini, tradisi berbagi melalui Bibien menjadi salah satu cara untuk meraih keberkahan di malam istimewa tersebut,” paparnya. 

Selain mengandung nilai spiritual, Bibien juga sarat pesan edukatif. Penggunaan bahan alami tanpa makanan instan serta pembungkus daun menjadi bentuk kampanye pengurangan sampah plastik sekaligus upaya menjaga lingkungan.

Menariknya, penggunaan daun juga memiliki makna filosofis yang diyakini sebagai “jatah” untuk Nabi Khidir, sosok yang dipercaya menjaga alam darat dan laut. Dengan bahan yang mudah terurai, masyarakat berharap keseimbangan alam tetap terjaga.

Tradisi ini pun mulai dilirik sebagai potensi wisata budaya. Festival Bibien dinilai mampu memberikan pengalaman unik bagi wisatawan karena menghadirkan interaksi langsung dengan kehidupan masyarakat lokal.

“Tahun ini, jumlah bungkusan Bibien mencapai sekitar 300 paket. Bahkan, sempat ada rencana kunjungan wisatawan mancanegara, meski tertunda akibat kendala penerbangan,” ungkapnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Moh Bahri
|
Editor:Ferry Agusta Satrio

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Bondowoso, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.