Dokter THT Ingatkan Bahaya Penggunaan TWS Berlebihan, Bisa Picu Gangguan Pendengaran
TIMES Bondowoso/Salah seorang pengguna TWS saat asik mendengarkan musik (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)

Dokter THT Ingatkan Bahaya Penggunaan TWS Berlebihan, Bisa Picu Gangguan Pendengaran

Dokter THT mengingatkan penggunaan TWS yang berlebihan dapat merusak pendengaran secara permanen.

TIMES Bondowoso,Kamis 26 Maret 2026, 03:04 WIB
107
M
Moh Bahri

BONDOWOSOPenggunaan True Wireless Stereo (TWS) kini semakin menjadi bagian dari gaya hidup modern. Perangkat audio nirkabel ini menawarkan kemudahan dan kebebasan bergerak tanpa kabel yang merepotkan.

Namun di balik kenyamanan tersebut, para ahli kesehatan mengingatkan adanya potensi dampak buruk jika penggunaannya tidak dikendalikan dengan bijak.

Dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) dari Rumah Sakit Unmuh Jember, dr. Bambang Indra, Sp.THT, mengingatkan bahwa penggunaan TWS sebaiknya mengikuti aturan sederhana agar tidak merusak pendengaran.

Ia menyarankan volume suara tidak lebih dari 60 persen dari kapasitas maksimal perangkat. Selain itu, durasi pemakaian sebaiknya tidak lebih dari 60 menit dalam sekali penggunaan.

Setelah itu, telinga perlu diberi waktu istirahat sekitar 10 hingga 15 menit agar tetap dalam kondisi sehat.

Menurut dr. Bambang, telinga memiliki bagian penting yang disebut rumah siput atau koklea, yaitu organ yang berfungsi menangkap dan menerjemahkan suara dari luar.

Di dalam koklea terdapat sel-sel halus berupa bulu getar yang berperan dalam proses pendengaran. Paparan suara keras dalam waktu lama dapat merusak bahkan membuat bulu getar tersebut rontok.

Jika kerusakan terjadi, sel tersebut tidak dapat tumbuh kembali.

“Jika bulu getar di dalam koklea rusak atau rontok, dampaknya bisa menyebabkan gangguan pendengaran permanen,” jelasnya.

Selain berdampak pada kesehatan telinga, penggunaan TWS yang berlebihan juga dinilai mulai memengaruhi pola interaksi sosial masyarakat.

Fenomena ini kerap terlihat di ruang publik seperti kafe atau tempat kerja. Banyak orang tetap memakai earbud di telinga meskipun sedang berada di tengah lingkungan sosial.

Terlebih lagi dengan adanya fitur Active Noise Cancellation (ANC) yang mampu meredam suara dari luar. Jika terlalu sering digunakan, fitur ini dapat membuat seseorang kurang peka terhadap situasi di sekitarnya.

Sandi, warga Kecamatan Tenggarang, Bondowoso, menilai kebiasaan tersebut secara tidak langsung menciptakan jarak komunikasi di ruang publik.

“Kadang orang disapa tidak dengar karena masih memakai earbud. Kalau diajak bicara harus melepas dulu. Ini seperti ada sekat komunikasi,” ujarnya.

Risiko lain yang lebih berbahaya muncul ketika TWS digunakan saat berkendara atau berjalan di area lalu lintas. Ketidakmampuan mendengar suara klakson, sirene, atau kendaraan di sekitar dapat meningkatkan risiko kecelakaan.

Karena itu, para ahli mengingatkan agar penggunaan TWS tetap dilakukan secara bijak. Kenyamanan teknologi memang membantu aktivitas sehari-hari, namun kesehatan pendengaran dan keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Moh Bahri
|
Editor:Imadudin Muhammad

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Bondowoso, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.