Ponpes Jhegeteh Bondowoso, Pesantren Tertua yang Menjaga Jejak Syiar Islam Sejak 1769
TIMES Bondowoso/Salah satu sudut bangunan kuno di Pesantren Jhegeteh, pensantren tertua di Kabupaten Bondowoso (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)

Ponpes Jhegeteh Bondowoso, Pesantren Tertua yang Menjaga Jejak Syiar Islam Sejak 1769

Ponpes Jhegeteh di Desa Poncogati, Bondowoso, diyakini sebagai pesantren tertua yang berdiri sejak 1769. Pesantren ini menjadi saksi awal berkembangnya syiar Islam di wilayah Bondowoso.

TIMES Bondowoso,Rabu 18 Maret 2026, 02:31 WIB
242
M
Moh Bahri

BONDOWOSODi tengah perkembangan zaman yang semakin modern, sebuah kompleks pesantren tua di Desa Poncogati, Kecamatan Curahdami, masih berdiri kokoh menjaga warisan sejarah Islam di Bondowoso.

Pondok Pesantren Jhegeteh menjadi salah satu saksi awal berkembangnya syiar Islam di daerah yang dikenal sebagai Bumi Ki Ronggo. Nama Jhegeteh sendiri merupakan sebutan dalam dialek Madura yang diserap dari nama Poncogati.

Pesantren yang diperkirakan berdiri pada 1769 ini didirikan oleh Kiai Hasbullah, seorang ulama asal Pamekasan, Madura.

Usianya yang telah melampaui dua setengah abad menjadikan Ponpes Jhegeteh diyakini sebagai pesantren tertua di Bondowoso. Bahkan keberadaannya telah ada jauh sebelum Kabupaten Bondowoso resmi terbentuk pada 1819.

Dari pusat Kota Bondowoso, lokasi pesantren ini berjarak sekitar lima kilometer. Meski telah berusia ratusan tahun, sejumlah bangunan inti pesantren masih mempertahankan bentuk aslinya.

Pilar-pilar kayu jati yang telah menghitam dimakan usia tetap berdiri kokoh menopang bangunan, menghadirkan nuansa klasik yang sarat nilai sejarah.

Salah satu anggota keluarga Ponpes Jhegeteh, Alifah Bahsa, menjelaskan bahwa catatan mengenai berdirinya pesantren diperkuat oleh sejumlah literatur yang masih tersimpan di lingkungan pesantren.

Selain itu, terdapat pula penanda tahun menggunakan tulisan angka berhuruf Arab pada salah satu bangunan lama.

“Pesantren ini berdiri di lahan kurang lebih 10 hektar. Informasi tahun berdirinya juga dapat dilihat dari penulisan angka Arab yang ada di salah satu bangunan,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).

Sejak didirikan oleh Kiai Hasbullah, pengelolaan pesantren terus dilanjutkan oleh keturunannya. Hingga kini, kepemimpinan Ponpes Jhegeteh telah memasuki generasi ketujuh dari garis keturunan pendirinya.

Dalam perkembangannya, keluarga besar pesantren juga mengelola beberapa lembaga pendidikan lain yang berada di bawah naungan yayasan keluarga. Di antaranya Pondok Pesantren Nurul Islam, Nurul Kholil, dan Nurul Ibrahimi.

Selain dikenal sebagai pusat pendidikan agama, Ponpes Jhegeteh juga memiliki daya tarik spiritual tersendiri. Tidak sedikit peziarah maupun wali santri yang datang untuk berkunjung sekaligus menelusuri jejak sejarah panjang pesantren tersebut.

Lingkungan pesantren yang dikelilingi pepohonan rindang menambah suasana tenang dan khidmat. Kondisi tersebut menciptakan atmosfer berbeda, jauh dari hiruk pikuk kehidupan perkotaan yang hanya berjarak beberapa kilometer dari lokasi pesantren.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Moh Bahri
|
Editor:Imadudin Muhammad

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Bondowoso, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.