Investasi Sepiring Nasi
TIMES Bondowoso/Mohammad Hairul, Kepala SMPN 1 Curahdami, Bondowoso dan Instruktur Nasional Literasi-Numerasi.

Investasi Sepiring Nasi

Membangun raga melalui MBG adalah langkah pragmatis untuk memastikan benih pendidikan ditanam di tanah yang subur, bukan di lahan yang kering kerontang.

TIMES Bondowoso,Selasa 3 Maret 2026, 14:00 WIB
63
H
Hainor Rahman

BondowosoLirik lagu kebangsaan Indonesia Raya, menitipkan pesan fundamenta. "Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya." Urutan ini kerap dianggap sebagai sebuah hierarki kaku. Bahwa jiwa harus didahulukan melalui pendidikan karakter dan moral. 

Sementara badan diletakkan sebagai urutan kedua. Padahal dalam realitas biologis dan sosiologis pembangunan manusia, pemisahan antara jiwa dan raga adalah sebuah dikotomi yang keliru. 

Polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya tidak dilihat sebagai beban anggaran semata. Secara strategis, MBG adalah upaya rekonsiliasi antara pembangunan fisik dan mental manusia Indonesia. 

Di dalam setiap piring makanan yang disajikan kepada siswa, terdapat saham masa depan yang sedang kita tanam untuk menjamin kualitas generasi mendatang. Kita harus menyadari bahwa secara filosofis dan medis, badan adalah infrastruktur dasar bagi jiwa. 

Data menunjukkan bahwa urgensi pembangunan raga di Indonesia sangatlah nyata dan mendesak. Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023, prevalensi stunting kita masih berada di angka 21,5%. 

Angka ini bukan sekadar statistik pertumbuhan tinggi badan yang terhambat, melainkan alarm bagi kualitas otak bangsa. Satu dari lima anak Indonesia mengalami hambatan fisik yang berdampak permanen pada sinapsis saraf dan perkembangan kognitif. 

Korelasi antara badan yang sehat dan investasi pendidikan tercermin secara pahit dalam skor PISA 2022. Hasil literasi, numerasi, dan sains siswa Indonesia mengalami penurunan signifikan, bahkan menyentuh level terendah dalam sejarah keikutsertaan kita. 

Rendahnya kemampuan kognitif ini tidak bisa dilepaskan dari fakta lapangan bahwa banyak siswa kita berangkat ke sekolah dengan perut kosong atau hanya mengonsumsi makanan rendah nutrisi (empty calories). 

Kritik terbesar terhadap MBG berkisar pada besarnya anggaran yang mencapai kisaran Rp71 triliun pada tahap awal. Namun, kita perlu melihat ini dari perspektif cost of inaction biaya yang harus dibayar negara jika kita diam saja. 

Bank Dunia mencatat bahwa kerugian ekonomi akibat stunting dan malnutrisi bisa mencapai 2-3% dari PDB per tahun. Dalam jangka panjang, kehilangan produktivitas ini jauh lebih mahal daripada harga sepiring nasi yang kita berikan hari ini.

Lebih jauh lagi, investasi ini memiliki efek pengganda (multiplier effect) bagi ekonomi kerakyatan. Dengan mewajibkan serapan bahan baku dari petani, peternak, dan nelayan lokal di sekitar satuan pendidikan, MBG menciptakan ekosistem ekonomi yang berputar di tingkat akar rumput. 

Di sini, pembangunan raga anak bangsa sekaligus menjadi suntikan modal bagi raga ekonomi daerah. Uang negara tidak hilang begitu saja, melainkan berputar di pasar-pasar lokal dan memperkuat ketahanan pangan desa.

Agar investasi ini memberikan imbal hasil (return) yang maksimal, kualitas nutrisi harus dijaga dengan pengawasan ketat mengikuti standar "Isi Piringku" yang kaya protein hewani. Selain itu, proses distribusi makanan di sekolah harus dimanfaatkan sebagai laboratorium pendidikan karakter. 

Di sinilah aspek jiwa dan badan bertemu dalam satu nampan: tentang kedisiplinan mengantre, rasa syukur sebelum makan, kebersamaan lintas latar belakang, hingga kebanggaan pada pangan lokal.

Mengucurkan dana triliunan untuk kurikulum pendidikan yang canggih akan sia-sia jika penerima materi tersebut (para siswa) berada dalam kondisi fisik yang rapuh. 

Pendidikan membangun jiwa, benar, tetapi nutrisi memastikan jiwa tersebut memiliki energi untuk bertumbuh. Tanpa badan yang sehat, pendidikan hanya akan menjadi proses mekanis yang hampa.

Menuju Indonesia Emas 2045, kita tidak boleh lagi terjebak pada perdebatan mana yang lebih penting antara kesehatan atau pendidikan. Keduanya adalah dua sisi dari satu koin pembangunan. 

Membangun raga melalui MBG adalah langkah pragmatis untuk memastikan benih pendidikan ditanam di tanah yang subur, bukan di lahan yang kering kerontang. Karena pada akhirnya, jiwa yang kuat hanya akan betah bersemayam dalam tubuh yang sehat. 

***

*) Oleh : Mohammad Hairul, Kepala SMPN 1 Curahdami, Bondowoso dan Instruktur Nasional Literasi-Numerasi.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Hainor Rahman
|
Editor:Hainorrahman

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Bondowoso, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.