TIMES BONDOWOSO, BONDOWOSO – style="margin-left:-17px; margin-right:-17px">Klaim pemerintah daerah terkait ketersediaan elpiji 3 kilogram kembali dipertanyakan. Selama hampir sepekan terakhir, warga Kabupaten Bondowoso justru dihadapkan pada kelangkaan gas bersubsidi tersebut. Di tengah pernyataan stok aman, dapur-dapur warga malah kehabisan bahan bakar.
Pantauan di lapangan menunjukkan elpiji 3 kilogram sulit ditemukan di tingkat pengecer. Di sejumlah wilayah, tabung kosong tampak berjajar, sementara pasokan gas tak kunjung datang.
Kondisi ini memaksa warga berkeliling dari satu toko ke toko lain, bahkan hingga lintas desa, hanya demi mendapatkan satu tabung gas melon.
Subhan, warga Desa Jambesari, Kecamatan Jambesari Darus Sholah, mengaku telah berhari-hari mencari elpiji tanpa hasil. Ia menyebut hampir seluruh pengecer di wilayahnya tidak memiliki stok.
“Sekarang cari gas susah sekali. Di pengecer kebanyakan cuma ada tabung kosongnya,” keluhnya, Rabu (28/1/2026).
Kelangkaan elpiji 3 kilogram ini turut berdampak pada lonjakan harga. Subhan menyebut, harga di tingkat pengecer bervariasi dan cenderung naik, berkisar antara Rp18 ribu hingga Rp22 ribu per tabung, itupun dengan jumlah yang sangat terbatas.
“Kalau katanya stok aman, terus gas melonnya ke mana?” ujarnya mempertanyakan.
Kondisi serupa juga dialami Taufik, warga Kecamatan Bondowoso. Ia mengaku harus berkeliling hingga ke sejumlah desa untuk mendapatkan elpiji 3 kilogram.
Bagi pelaku usaha kecil sepertinya, gas bukan sekadar kebutuhan rumah tangga, melainkan penopang utama aktivitas ekonomi sehari-hari.
Jika pun elpiji tersedia, harganya jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET). Namun dalam situasi terdesak, Taufik tak memiliki banyak pilihan.
“Mau harganya Rp25 ribu tetap dibeli, soalnya susah banget nyarinya,” katanya.
Ironisnya, di tengah kesulitan tersebut, Taufik justru membaca pemberitaan yang menyebut stok elpiji di Bondowoso dalam kondisi aman.
Menurutnya, realitas di lapangan berbicara sebaliknya. Akibat keterbatasan gas, aktivitas memasak di kedainya kini hanya mengandalkan satu kompor.
“Katanya stok aman, tapi kenyataannya langka. Coba lihat toko-toko, banyak yang kosong,” pungkasnya.(*)
| Pewarta | : Moh Bahri |
| Editor | : Imadudin Muhammad |