Tradisi Ter Ater di Bondowoso, Menguatkan Silaturahmi Keluarga Saat Lebaran
Momen Idulfitri tidak hanya identik dengan saling memaafkan, tetapi juga berbagai tradisi khas yang masih terjaga di tengah masyarakat. Salah satunya adalah tradisi ter ater.
BONDOWOSO – Momen Idulfitri tidak hanya identik dengan saling memaafkan, tetapi juga berbagai tradisi khas yang masih terjaga di tengah masyarakat. Salah satunya adalah tradisi ter ater.
Di Jawa Timur, termasuk di Kabupaten Bondowoso, tradisi ter ater merupakan kebiasaan membawa atau mengantarkan makanan ke rumah keluarga dan kerabat saat Lebaran.
Tradisi ini banyak dijumpai di kalangan masyarakat Madura yang tersebar di berbagai daerah, termasuk di Bondowoso.
Dalam bahasa Madura, ter ater berarti mengantarkan sesuatu. Pada momen Lebaran, masyarakat biasanya menyiapkan berbagai hidangan khas seperti ketupat, opor ayam, rendang, hingga kue-kue Lebaran.
Makanan khas lebaran tersebut kemudian biasanya dibawa ke rumah keluarga, tetangga, maupun kerabat dekat.
Salah seorang tokoh NU di Bondowoso, Haryono, tradisi ter ater biasanya dilakukan sejak hari pertama Idul Fitri hingga beberapa hari setelahnya.
“Bahkan ada yang sudah melakukan ter ater ini beberapa hari sebelum lebaran. Waktu yang dibutuhkan ter ater ini tergantung pada jumlah keluarga yang akan didatangi. Semakin banyak semakin lama, bahkan ada yang berminggu-minggu,” paparnya.
Menurutnya, makanan yang dibawa umumnya ditata dalam wadah atau rantang, lalu diantar langsung saat bersilaturahmi.
Bagi masyarakat, ter ater bukan sekadar berbagi makanan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan mempererat hubungan kekeluargaan.
“Dengan saling mengunjungi sambil membawa hidangan, hubungan antaranggota keluarga maupun tetangga menjadi semakin dekat,” paparnya, Sabtu (14/3/2026).
Menurutnya, di semua desa di Bondowoso, tradisi ini sudah menjadi kebiasaan turun-temurun yang terus dijaga oleh masyarakat.
Anak-anak hingga orang dewasa ikut terlibat, baik membantu menyiapkan makanan maupun mengantarkannya ke rumah saudara.
Selain mempererat silaturahmi, tradisi ini juga dinilai mencerminkan nilai gotong royong dan kepedulian sosial.
“Melalui ter ater, masyarakat dapat saling berbagi rezeki sekaligus menjaga kehangatan hubungan di tengah suasana Lebaran,” ungkapnya.
Meski zaman terus berkembang kata dia, tradisi ter ater harus tetap lestari. Bagi banyak keluarga, kebiasaan ini menjadi bagian penting dari perayaan Lebaran yang tidak boleh terlewatkan.
“Tradisi sederhana ini menjadi pengingat bahwa makna Lebaran tidak hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang kebersamaan dan berbagi dengan sesama,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

