Legenda Kerbau Putih Melateh, Jejak Ki Ronggo Menentukan Pusat Kota Bondowoso
Sejarah Bondowoso tak lepas dari Ki Ronggo dan kerbau putih Melateh. Kerbau ini dipercaya jadi penunjuk lokasi pusat pemerintahan yang kini menjadi alun-alun Bondowoso.
BONDOWOSO – Sejarah berdirinya Kabupaten Bondowoso tidak bisa dilepaskan dari sosok legendaris bernama Ki Ronggo. Tokoh ini dikenal sebagai pelopor yang membuka dan mengembangkan wilayah yang kini menjadi Bondowoso.
Berdasarkan sejumlah catatan sejarah dan cerita turun-temurun, kisah tersebut bermula ketika Bupati Besuki, Ronggo Kiai Suroadikusumo, mengutus anak angkatnya, Raden Bagus Asra, untuk mengembangkan wilayah baru.
Raden Bagus Asra, yang kemudian dikenal dengan sebutan Ki Ronggo, yang mendapat titah membuka wilayah ke arah tenggara dari Besuki. Wilayah inilah yang kelak berkembang menjadi Bondowoso.
Dalam perjalanan menjalankan tugas tersebut, Ki Ronggo ditemani sejumlah pengikut serta seekor kerbau putih.
Sebelum berangkat, Ki Ronggo terlebih dahulu dinikahkan dengan putri Bupati Probolinggo, Joyolelono, yang bernama Roro Sakdiyah.
Sebagai bekal perjalanan, sang bupati memberikan seekor kerbau putih jenis dungkol, kerbau yang memiliki tanduk melengkung ke bawah seperti menancap ke tanah.
Kerbau tersebut diberi nama Melateh, yang berarti melati. Dalam cerita masyarakat, kerbau putih ini dipercaya memiliki peran penting dalam penentuan pusat pemerintahan Bondowoso.
Ketua Paguyuban Keturunan Ki Ronggo, Supriadi menuturkan, kerbau putih itu dijadikan penunjuk lokasi yang dianggap tepat untuk mendirikan pusat pemerintahan setelah Ki Ronggo diangkat menjadi Demang Blindungan.
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun kata dia, kerbau putih itu dilepas untuk berjalan bebas.
“Kepercayaannya, di mana kerbau putih itu berhenti, di situlah tempat yang layak dijadikan pusat pemerintahan,” ujar Supriadi, yang mengaku sebagai keturunan kelima Ki Ronggo.
Perjalanan kerbau Melateh akhirnya berhenti di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai pusat kota Bondowoso. Lokasi itu saat ini menjadi kawasan alun-alun Bondowoso.
Untuk meratakan tanah di area tersebut, Ki Ronggo konon sering menggelar berbagai tontonan bagi masyarakat. Mulai dari aduan sapi hingga aduan burung puyuh.
Aktivitas itu membuat banyak orang berkumpul dan menginjak-injak tanah, sehingga perlahan permukaan tanah menjadi lebih rata.
Di antara berbagai tontonan tersebut, aduan sapi menjadi yang paling diminati masyarakat. Tradisi itulah yang kemudian berkembang menjadi salah satu budaya khas Bondowoso.
Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, kerbau putih Melateh akhirnya dimakamkan di sekitar lokasi alun-alun, tepatnya di bawah pohon beringin.
“Kerbau putih milik Ki Ronggo itu dikebumikan di bawah pohon beringin sebagai penanda bahwa ia memiliki andil dalam berdirinya alun-alun dan wilayah Bondowoso,” pungkas Supriadi.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

