Tradisi Nyekar Jelang Ramadan di Bondowoso, Ulama Sebut Momentum Refleksi dan Penguat Silaturahmi
Tradisi nyekar jelang Ramadan di Bondowoso dinilai memiliki makna spiritual dan sosial. KH Nawawi Maksum menyebut ziarah kubur sebagai momentum refleksi dan penguat silaturahmi.
TIMESINDONESIA – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Kabupaten Bondowoso mulai ramai mendatangi makam keluarga untuk melaksanakan tradisi nyekar atau ziarah kubur. Tradisi ini menjadi bagian yang mengakar dalam budaya masyarakat setempat setiap menjelang Ramadan.
Di Bondowoso, ziarah kubur dilakukan secara individu, bersama keluarga, maupun berkelompok dengan warga lainnya. Selain sebagai tradisi turun-temurun, kegiatan ini dinilai memiliki manfaat dari sisi spiritual dan sosial.
Ulama Bondowoso, KH Nawawi Maksum, menyampaikan bahwa ziarah kubur sebelum Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum refleksi diri agar umat Islam lebih siap secara batin menyambut bulan penuh ampunan.
Pertama, kata dia, ziarah kubur menjadi pengingat akan kematian. Saat berada di makam, seseorang diingatkan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara.
“Itu membuat kita tidak terlalu mengejar urusan dunia dan lebih fokus memperbaiki ibadah, terutama saat memasuki Ramadan,” ujarnya.
Kedua, lanjutnya, tradisi nyekar menjadi sarana mengirim doa kepada orang tua dan keluarga yang telah wafat. Dalam ajaran Islam, doa anak yang saleh menjadi salah satu amalan yang tidak terputus bagi orang yang telah meninggal dunia.
“Ziarah kubur adalah bentuk bakti kepada orang tua. Kita mendoakan mereka, memohonkan ampunan untuk mereka. Ini juga menjadi pengingat bahwa suatu saat nanti kita pun akan berada di posisi yang sama,” tambahnya saat dikonfirmasi, Selasa (17/2/2026).
Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa tersebut juga menjelaskan bahwa ziarah kubur memiliki dampak psikologis yang positif, yakni melunakkan hati. Dengan mengingat kematian dan mendoakan keluarga yang telah tiada, hati menjadi lebih tenang dan lebih mudah menerima nasihat.
“Hati yang lembut akan lebih siap menyambut Ramadan. Orang akan lebih mudah memaafkan, lebih ringan bersedekah, dan lebih ikhlas dalam beribadah,” jelasnya.
Tidak hanya bernilai ibadah, nyekar juga menjadi momen mempererat silaturahmi keluarga. Biasanya, keluarga besar berkumpul di makam, kemudian melanjutkan dengan doa bersama atau berbincang untuk mempererat hubungan kekeluargaan.
“Ini bukan hanya soal makam, tetapi juga tentang menjaga kerukunan. Keluarga yang mungkin jarang bertemu bisa berkumpul, saling mendoakan, dan memperbaiki hubungan sebelum memasuki Ramadan,” pungkasnya.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


