Ilustrasi penipuan berkedok kesempatan jadi pangkalan LPG 3 Kg, membuat warga Bondowoso rugi jutaan rupiah (FOTO: Dokumen Times Indonesia

Modus Penipuan Pangkalan LPG 3 Kg, Warga Bondowoso Tertipu Jutaan Rupiah

Seorang warga Bondowoso mengaku mengalami kerugian jutaan rupiah, setelah tertarik dengan tawaran menjadi pangkalan resmi LPG 3 kg.

TIMES Bondowoso,Rabu 12 Agustus 2026, 13:33 WIB
220
M
Moh Bahri

BONDOWOSOSeorang warga berinisial F mengaku mengalami kerugian jutaan rupiah, setelah tertarik dengan tawaran menjadi pangkalan resmi LPG 3 kg.

Peristiwa itu bermula ketika F melihat status WhatsApp temannya, berinisial S, yang mengaku telah mendapatkan kesempatan menjadi pangkalan LPG 3 kg.

Sebelumnya, S sempat membuat status WA bagaimana cara menjadi pangkalan. Beberapa hari kemudian, S mengunggah status bahwa dirinya telah mendapatkan jatah sebagai pangkalan.

F menghubungi S untuk menanyakan prosesnya. Saat itu, S menyebut masih ada satu kuota tersisa untuk tahun ini. Bahkan, harga isi ulang yang disebutkan hanya Rp16.000 per tabung sehingga pangkalan masih dapat menjualnya kepada masyarakat sekitar Rp18.000.

Tertarik dengan informasi tersebut, F meminta nomor orang yang membantu S. F kemudian mendapatkan nomor seseorang bernama Mu'is Gas. 

F lantas menghubungi Mu'is melalui telepon. Dalam komunikasi tersebut, Mu'is mengaku sebagai agen sekaligus distributor LPG.

Ketika ditanya mengenai cara menjadi pangkalan LPG 3 kg, Mu'is awalnya mengatakan bahwa kuota tahun ini sudah tidak tersedia. Satu kuota terakhir, katanya, telah diberikan kepada warga di Maesan.

“Karena tidak mendapatkan kuota, saya kemudian meminta agar dihubungi kembali apabila tahun depan tersedia kuota. Setelah itu tidak ada komunikasi lagi,” katanya. 

Beberapa hari kemudian, tepatnya Kamis 6 Agustus 2026 kemarin, Mu'is kembali menghubungi F melalui WhatsApp. 

Dalam komunikasi tersebut, Mu'is menanyakan apakah F sudah mendapatkan jatah pangkalan. Setelah F menjawab belum mendapatkan kuota, Mu'is kemudian memberikan nomor seseorang bernama Koko.

“Mu'is mengatakan, bahwa Koko sebagai atasannya dan meminta saya menghubungi nomor tersebut,” jelasnya, Rabu (12/8/2026). 

F yang juga korban mengikuti arahan tersebut. Saat dihubungi, Koko mengaku sebagai pimpinan sebuah perusahaan yang bergerak dalam distribusi LPG 3 kg.

Kemudian pelaku mengatakan, bahwa kesempatan pengajuan pangkalan masih terbuka. Namun, karena saat itu sudah sore sekitar pukul 16.00 WIB, waktunya disebut sangat terbatas.

“Koko bahkan mengaku masih memiliki waktu sekitar satu jam, untuk membantu pengajuan F. Dia juga mengatakan sudah ada sejumlah berkas calon pendaftar yang masuk,” kata F menirukan percakapan dengan pelaku. 

Pelaku kemudian meminta data pribadi F, termasuk KTP, KK, serta nama toko. Komunikasi tersebut berlangsung sekitar satu jam. 

Setelah itu kata F, pelaku menyampaikan bahwa pengajuan F bisa disetujui dan dirinya dapat menjadi pangkalan. F awalnya menginginkan 50 tabung dengan syarat status pangkalan tersebut benar-benar resmi.

“Namun, yang namanya Koko ini justru menawarkan 75 tabung, dan tawaran tersebut saya sanggupi,” jelasnya. 

F kemudian diminta membeli tabung LPG dengan harga sekitar Rp168.000 per tabung. Karena uang F saat itu masih berada di koperasi. Pelaku mendesak agar F membayar sebagian terlebih dahulu, sementara kekurangannya akan ditalangi.

Selanjutnya, F diminta mentransfer uang sebesar Rp5,4 juta melalui rekening Bank BCA. Selain itu, F kembali diminta membayar Rp2 juta untuk pengurusan surat izin sebagai pangkalan resmi.

"Kok dengan mudahnya, saya itu TF uang. Karena si Koko ini mengaku akan mengurus semuanya, sehingga saya hanya tinggal rerima beres," paparnya.

Namun, hingga Kamis malam sekitar pukul 20.00 WIB, F tidak kunjung menerima bukti surat izin yang dijanjikan.

F kemudian mencoba menghubungi Koko melalui WhatsApp. Namun, nomor tersebut sudah tidak dapat dihubungi dan diduga tidak aktif.

Merasa curiga, F kemudian menghubungi temannya, S, yang sebelumnya memberikan nomor Mu'is. Dari percakapan tersebut, F baru mengetahui bahwa S juga menjadi korban dugaan penipuan dengan modus serupa. Temannya itu mengaku telah mengalami kerugian sekitar Rp8,5 juta.

"Saya tanya, dapat darimana nomor. Teman saya ini ternyata dapat di Facebook. Di hari yang sama teman saya baru sadar, ternyata itu penipu. Teman saya ini transaksinya sedikit-sedikit, tapi karena sering, akhirnya banyak juga," ungkapnya.

F berharap warga tidak mudah tertipu dengan penawaran investasi atau usaha apapun melalui media sosial.

“Biasanya saya kalau di Facebook tidak percaya, tapi karena teman saya yang bikin status, saya percaya juga. Dan salahnya saya, tidak nanya dapat nomor dari mana,” sesalnya. (*)



Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Moh Bahri
|
Editor:Ferry Agusta Satrio

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Bondowoso, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.