TIMES BONDOWOSO, BONDOWOSO – Semangat gotong royong warga Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogosari, Kabupaten Bondowoso kembali terlihat dalam upaya memperbaiki jembatan penghubung antardesa yang rusak akibat banjir bandang pada Desember 2024 lalu.
Jembatan tersebut merupakan akses utama yang menghubungkan Desa Pakisan, Sulek, Jebung Kidul, dan Tlogosari.
Kerusakan jembatan sempat memaksa warga menggunakan jembatan darurat dari bambu. Namun, seiring waktu, material bambu mulai lapuk dan dinilai membahayakan keselamatan pengguna. Kondisi itu mendorong warga berinisiatif melakukan perbaikan secara swadaya.
Seorang warga berinisial M mengatakan, penggalangan dana dilakukan hampir 10 hari dengan cara berkeliling kampung membawa kotak amal.
Dari kegiatan tersebut, warga berhasil mengumpulkan dana hampir Rp7 juta. Selain itu, sekitar 60 kepala keluarga turut berpartisipasi dengan iuran sukarela sebesar Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per KK.
“Kepala desa juga ikut membantu secara pribadi dan meminjamkan molen untuk adukan semen,” ujar M saat dikonfirmasi, Jumat (23/1/2026).
Proses perbaikan jembatan telah berlangsung hampir satu bulan. Warga khususnya dari Dusun Sempolan sisi timur, bergotong royong bekerja sejak pagi hingga siang hari.
Sementara pada sore hari, para perempuan membantu dengan kembali menggalang donasi dari rumah ke rumah.
Jembatan ini memiliki peran penting bagi aktivitas warga, terutama sebagai jalur utama anak-anak Desa Tlogosari menuju sekolah di Desa Pakisan.
Selain itu kata dia, akses tersebut juga mempersingkat jarak menuju Desa Jebung Kidul. Jika harus melewati jalan raya, warga terpaksa memutar lebih jauh karena kondisi jalan rusak dan harus melewati beberapa perlintasan.
M mengungkapkan, warga sebelumnya telah mengajukan permohonan perbaikan kepada Pemerintah Desa. Namun, keterbatasan anggaran menjadi kendala.
“Awalnya kami menunggu perbaikan dari desa, katanya direncanakan April 2026. Tapi karena Dana Desa tahun ini terpangkas, akhirnya kami sepakat bergerak sendiri,” tuturnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme warga yang tinggi. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun terlihat ikut membantu pekerjaan ringan di sekitar lokasi.
Masih di Dusun Sempolan, tepatnya di RT 21 RW 05, warga juga membangun jembatan lain secara swadaya. Berbeda dengan jembatan sebelumnya, pembangunan ini dilakukan bukan karena bencana, melainkan demi faktor keselamatan.
Simpang tiga di kawasan tersebut berada dekat jurang dan kerap memicu kecelakaan. Kondisi jalan yang terlalu menyiku dan menurun memaksa pengendara dari arah barat mengerem mendadak dan kesulitan bermanuver.
Seorang warga berinisial MR menjelaskan, awalnya warga hanya merencanakan pembangunan plengsengan atau dinding penahan tanah. Namun, hasil musyawarah warga memutuskan membangun jembatan agar lebih aman.
“Kasihan warga yang sudah lanjut usia, apalagi kalau membawa barang. Jalannya terlalu curam dan berbahaya,” ujarnya.
Jembatan yang dibangun memiliki tinggi sekitar 9 meter, panjang 30 meter, dan lebar kurang lebih 5 meter. Pengerjaan telah berlangsung sekitar dua bulan dengan dana iuran warga berkisar Rp100 ribu hingga Rp250 ribu per orang. Hingga kini, dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp10 juta.
Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air, dan Bina Konstruksi (BSBK) Kabupaten Bondowoso, Ansori menjelaskan, ruas jalan dan jembatan tersebut merupakan aset desa.
“Karena itu merupakan jalan desa, kami tidak bisa menganggarkan perbaikan, meskipun kerusakannya disebabkan oleh bencana alam,” jelasnya.
Meski demikian, Ansori tidak menutup kemungkinan adanya bantuan ke depan melalui skema kolaborasi lintas pihak.
“Untuk intervensi ke sana harus ada kerja sama. Pembangunan jembatan membutuhkan anggaran yang tidak sedikit,” pungkasnya. (*)
| Pewarta | : Moh Bahri |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |