TIMES BONDOWOSO, BONDOWOSO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso mendistribusikan bantuan air bersih kepada warga Desa Klekean, Kecamatan Botolinggo, yang mengalami krisis air bersih akibat tanah longsor di area sumber mata air.
Longsor tersebut merusak broncap atau bak penampungan utama, sehingga pasokan air bersih ke enam dusun terhenti. Akibatnya, ratusan kepala keluarga terpaksa mengandalkan air hujan untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari selama beberapa hari terakhir.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo mengatakan, distribusi air bersih telah dilakukan sejak Minggu (4/1/2026).
Bantuan direncanakan berlangsung selama satu bulan dengan rata-rata pasokan 10.000 liter air per hari menggunakan dua unit truk tangki.
“Distribusi air bersih kita lakukan secara rutin untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak,” ujarnya.
Selain pendistribusian air, BPBD juga melakukan peninjauan langsung ke lokasi broncap sumber mata air yang tertimbun longsor. Peninjauan dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat kerusakan serta langkah perbaikan yang diperlukan.
Kepala Bidang Rehabilitasi, Rekonstruksi dan Logistik BPBD Bondowoso, Tugas Riski Bahana menjelaskan, tim gabungan dari BPBD, Dinas Perkim Ciptaru, pemerintah desa, dan kecamatan harus berjalan kaki sekitar enam kilometer untuk mencapai lokasi sumber mata air yang berada di kawasan hutan.
“Hasil pengecekan, kerusakan terparah terjadi pada broncap di Desa Klekean yang berfungsi sebagai penampungan utama sebelum air dialirkan ke warga,” jelasnya.
Selama ini lanjut dia, air dari tandon pasangan batu di Desa Penang dialirkan ke broncap Desa Klekean sebelum didistribusikan ke enam dusun.
Namun longsor menyebabkan broncap rusak dan sejumlah pipa distribusi putus, masing-masing sepanjang tujuh lonjor, sehingga suplai air bersih terhenti.
Untuk penanganan lanjutan, BPBD Bondowoso mengajukan penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) yang selanjutnya akan diregulerkan ke DPA organisasi perangkat daerah teknis.
Sebanyak sekitar 420 kepala keluarga terdampak krisis air bersih. Rinciannya, Dusun Klekean sebanyak 80 KK, Dusun Banteng 70 KK, Dusun Banteng Lor 60 KK, Dusun Banteng Kidul dua RT dengan total sekitar 130 KK, Dusun Plampang dua RT dengan sekitar 130 KK, serta Dusun Sumberwaru sebanyak 30 KK.
Kepala Desa Klekean, Sulatis menyebutkan, kekurangan air bersih terjadi setelah diketahui adanya longsor di broncap sumber mata air yang lokasinya cukup jauh dan sulit dijangkau.
“Lokasinya berada di kawasan hutan, harus naik motor ke desa tetangga lalu dilanjutkan jalan kaki menyusuri tebing sekitar lima sampai enam kilometer,” katanya saat dikonfirmasi, Kamis (1/1/2026).
Ia menambahkan, sementara waktu warga memenuhi kebutuhan air dengan menampung air hujan yang kemudian dimasak. Sebagian warga yang memiliki kendaraan bermotor juga mengambil air dari sumur bor terdekat.
“Untuk sementara warga mengombinasikan sumber air yang ada sambil menunggu perbaikan,” pungkasnya. (*)
| Pewarta | : Moh Bahri |
| Editor | : Imadudin Muhammad |