TIMES BONDOWOSO, BONDOWOSO – Hasil uji laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, memastikan dugaan keracunan massal yang menimpa puluhan siswa di Kecamatan Sumberwringin bukan disebabkan oleh susu kedelai, melainkan oleh menu tumis jagung labu yang diduga mengandung nitrit melebihi ambang batas.
Insiden tersebut terjadi usai para siswa mengonsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Al Hidayah 3, Desa Rejoagung. Sebelumnya, susu kedelai sempat dicurigai sebagai penyebab utama keracunan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bondowoso, Fathur Rozi menjelaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, kandungan nitrit berlebih ditemukan pada tumis jagung labu.
Sementara menu lainnya memang mengandung senyawa kimia serupa, namun masih dalam batas aman. “Ini bukan karena susu kedelainya. Ada indikasi kesalahan dalam proses pengolahan makanan,” ujarnya, Selasa (6/1/2026).
Fathur mengungkapkan, terdapat dua kemungkinan penyebab utama. Pertama, proses memasak yang tidak sesuai standar operasional prosedur (SOP). Kedua, waktu distribusi yang terlalu lama.
Dalam SOP disebutkan, nasi harus didinginkan terlebih dahulu sebelum dikemas. Jika dibungkus saat masih panas, kandungan dalam makanan dapat berubah dan memicu reaksi tertentu, terutama pada tubuh yang sedang tidak fit.
Kasus keracunan tersebut terjadi di lima sekolah dengan total korban mencapai 77 orang, terdiri dari siswa dan guru. Padahal, SPPG Al Hidayah 3 melayani sekitar 59 sekolah dengan jumlah penerima manfaat kurang lebih 3.400 orang.
“Informasi yang kami terima, sumber masalah ada pada nasi dan sayurnya, akibat SOP yang diabaikan dan distribusi yang terlalu lama,” tambahnya, Selasa (6/1/2026).
Pemerintah Kabupaten Bondowoso memastikan, akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh SPPG guna mencegah kejadian serupa terulang.
Meski demikian, tidak ada sanksi yang dijatuhkan kepada SPPG Al Hidayah 3. Setelah sempat dihentikan sementara, operasionalnya kini telah kembali berjalan.
“Izinnya sudah keluar dan kegiatan sudah kembali dibuka,” kata Fathur. (*)
| Pewarta | : Moh Bahri |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |