Ratusan Peninggalan Megalitik di Bondowoso Jadi Magnet Penelitian dan Wisata Sejarah
Museum Terbuka Megalitik Bondowoso menyimpan sekitar 252 koleksi benda megalitik yang menjadi daya tarik wisata sejarah sekaligus lokasi penelitian akademisi untuk mengkaji peradaban prasejarah di Jawa Timur.
BONDOWOSO – Ratusan peninggalan megalitik yang tersimpan di kawasan Museum Terbuka Megalitik Bondowoso (MTMB) menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan maupun kalangan akademisi.
Situs yang berada di kawasan Pusat Informasi Megalitikum (PIM) Bondowoso ini tidak hanya menarik pengunjung umum, tetapi juga kerap didatangi para peneliti dari berbagai daerah yang ingin mengkaji peradaban kuno di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, Gede Budiawan menjelaskan bahwa saat ini terdapat sekitar 252 koleksi benda megalitik yang tersimpan di kawasan tersebut. Koleksi itu ditata baik di area dalam maupun luar ruangan museum.
“Jenisnya sangat beragam, mulai dari batu kenong, batu dakon, hingga lapik arca,” ujarnya, Rabu (11/3/2026).
Menurut Gede, temuan megalitik di Bondowoso tergolong paling lengkap di Jawa Timur, bahkan di Pulau Jawa. Kondisi ini membuat daerah tersebut sering dijadikan rujukan bagi para peneliti yang memiliki minat pada kajian kebudayaan megalitik.
Selama ini kawasan museum terbuka tersebut kerap menjadi lokasi penelitian bagi akademisi dari berbagai perguruan tinggi maupun lembaga penelitian. Mereka datang untuk menelusuri jejak kehidupan masyarakat prasejarah yang pernah berkembang di wilayah Bondowoso.
“Kami sering menerima kunjungan peneliti dari berbagai universitas. Mereka melakukan studi lapangan tentang budaya megalitik yang berkembang di sini,” katanya.
Keberadaan museum ini diharapkan tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan benda-benda kuno. Lebih dari itu, kawasan tersebut juga diproyeksikan sebagai ruang edukasi untuk mengenal lebih dekat tradisi megalitik yang diyakini menjadi salah satu yang tertua di Nusantara.
Gede menyebutkan bahwa Bondowoso memiliki jejak tradisi megalitik dengan rentang waktu yang sangat panjang dibandingkan sejumlah daerah lain. Karena itu, potensi tersebut perlu dikelola dan dipromosikan secara lebih optimal.
“Sejak dulu Bondowoso memang kaya peninggalan megalitik. Tantangannya adalah bagaimana mengelola dan melakukan branding agar lebih dikenal luas,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa setiap batu megalitik memiliki fungsi dan makna berbeda pada masa lalu. Sebagian digunakan sebagai sarana ritual pemujaan, sementara yang lain berfungsi sebagai penanda makam tokoh penting pada zamannya.
Jenis yang paling banyak ditemukan di Bondowoso antara lain dolmen dan batu kenong. Menariknya, beberapa di antaranya masih dalam kondisi relatif utuh meski telah berusia ribuan tahun.
Selain sebagai destinasi wisata sejarah, kawasan ini juga mulai berkembang menjadi lokasi pembelajaran arkeologi. Sejumlah sekolah dan perguruan tinggi rutin mengunjungi situs tersebut untuk kegiatan studi lapangan.
Pemerintah daerah pun terus melakukan penataan kawasan museum. Berbagai fasilitas pendukung seperti papan informasi, gazebo, hingga jalur pejalan kaki telah disediakan untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung.
“Tujuan kami bukan hanya melestarikan situs, tetapi juga membuatnya tetap hidup sebagai ruang belajar dan wisata. Pengunjung diharapkan bisa merasakan pengalaman melihat langsung jejak peradaban nenek moyang,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



