Pahala Tarawih Malam ke-2: Dosa Diampuni, Termasuk Orang Tua Jika Mukmin
Tarawih malam kedua Ramadan disebut memiliki keutamaan Allah mengampuni dosa orang yang menunaikannya, bahkan dosa kedua orang tuanya jika keduanya beriman.
JAKARTA – Tarawih malam kedua Ramadan disebut memiliki keutamaan Allah mengampuni dosa orang yang menunaikannya, bahkan dosa kedua orang tuanya jika keduanya beriman.
Dalam kitab Durrat al-Nasihin fi al-Wa’zhi wa al-Irsyad, Syekh Umar bin Hasan bin Ahmad al-Syakir al-Khaubari menuliskan:
وفى الليلة الثانية يغفر له ولأبويه ان كان مؤمنين
Artinya, pada malam kedua, orang yang melaksanakan shalat tarawih diampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya apabila keduanya mukmin.
Keutamaan ini tentu menjadi motivasi tersendiri. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga sebagai bentuk bakti spiritual kepada orang tua.
Secara hukum, para ulama sepakat bahwa shalat tarawih adalah sunnah muakkadah. Penegasan itu salah satunya dapat ditemukan dalam kitab Kifayatul Akhyar karya Syekh Taqiyuddin al-Hishni:.
وَأما صَلَاة التَّرَاوِيح فَلَا شكّ فِي سنيتها وانعقد الْإِجْمَاع على ذَلِك قَالَه غير وَاحِد وَلَا عِبْرَة بشواذ الْأَقْوَال
“Adapun shalat tarawih, tidak diragukan lagi kesunnahannya. Kesepakatan ulama telah kukuh dalam hal itu. Pendapat-pendapat yang menyimpang tidak diperhitungkan.”
Anjuran tarawih juga ditegaskan langsung oleh Rasulullah SAW dalam hadits sahih yang diriwayatkan oleh Muhammad:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa menunaikan qiyam Ramadan dengan iman dan penuh pengharapan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini memberi garis bawah penting: pengampunan itu disyaratkan iman dan keikhlasan. Bukan sekadar hadir, tetapi hadir dengan hati.
Para ulama berbeda pendapat soal jenis dosa yang diampuni. Dalam Nihayatul Muhtaj, Syekh Muhammad bin Ahmad ar-Ramli menyebut Imam Haramain berpendapat bahwa yang diampuni adalah dosa kecil, sebab dosa besar mensyaratkan taubat khusus.
Sementara Ibnul Mundzir memahami redaksi hadits bersifat umum, sehingga mencakup dosa kecil maupun besar.
Selain itu, ada pula keutamaan bagi yang konsisten sampai selesai. Rasulullah SAW bersabda:
إنَّ الرَّجلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإمامِ حتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَه قِيَامُ ليلةٍ
“Siapa yang shalat bersama imam hingga selesai, dicatat baginya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR Abu Dawud)
Penjelasan tentang hal ini dapat ditemukan dalam kitab Aunul Ma’bud karya Syekh Syamsul Haq Abadi. Ia menjelaskan bahwa pahala satu malam penuh itu mencakup nilai ibadah fardhu dan sunnah sesuai kadar kesungguhan orang tersebut.
Karena itu, tarawih bukan hanya soal berapa rakaat, tetapi juga soal konsistensi. Tidak sedikit yang semangat di awal Ramadan, lalu mulai berkurang di pertengahan. Padahal, justru keberlanjutan itulah yang melipatgandakan nilai ibadah.
Semoga kita diberi kesehatan dan stamina untuk menjaga tarawih hingga akhir Ramadan, bukan hanya di awalnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




