Jembatan Sentong Bondowoso Ditutup, Ambulans dan Damkar Alih Rute
Ditutupnya Jembatan Sentong dalam beberapa bulan ke depan tak hanya memengaruhi arus lalu lintas umum, tetapi juga berdampak langsung pada
BONDOWOSO – Ditutupnya Jembatan Sentong dalam beberapa bulan ke depan tak hanya memengaruhi arus lalu lintas umum, tetapi juga berdampak langsung pada operasional layanan darurat.
Ambulans dan armada pemadam kebakaran kini harus menempuh rute alternatif demi memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal.
Kepala Dinas Kesehatan Bondowoso, dr. Moch Jasin menyampaikan, seluruh ambulans sementara ini mengikuti jalur pengalihan yang telah ditetapkan Dinas Perhubungan (Dishub). Menurutnya, keputusan tersebut diambil demi keselamatan bersama.
“Bahaya juga kalau melewati itu. Kondisi jembatannya kan memang tidak memungkinkan,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Ia menambahkan, pihaknya akan segera melakukan koordinasi lanjutan dengan Dishub untuk memastikan kendaraan prioritas seperti ambulans mendapat kemudahan akses di jalur alternatif. Skema ini penting agar respons terhadap pasien gawat darurat tetap cepat dan tidak terkendala kemacetan.
“Nanti kami akan koordinasi lagi dengan Dishub. Apakah ada jalur lain yang memungkinkan untuk dilewati,” imbuhnya.
Untuk ambulans yang datang dari wilayah selatan seperti Maesan dan Grujugan, rute yang disarankan adalah melalui kawasan Pemandian Tasnan kemudian tembus ke Jalan Raya Tamanan.
Jalur tersebut dinilai lebih lancar dibandingkan harus melewati kawasan Nangkaan yang kondisinya lebih padat dan menantang bagi kendaraan besar.
“Relatif lebih lancar. Kalau lewat Nangkaan lebih berat,” jelasnya.
Penyesuaian juga dilakukan oleh jajaran Pemadam Kebakaran Satpol PP Bondowoso. Kepala Bidang Damkar, Vara Tedi mengungkapkan bahwa sejumlah armada dan peralatan penting telah dipindahkan dari Mako Damkar ke area Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso. Langkah ini dilakukan sebagai strategi percepatan respons.
Armada yang dipindahkan meliputi kendaraan rescue, carsentro, hingga unit water supply. “Untuk lebih memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat,” kata Tedi.
Ia menjelaskan, efektivitas penanganan kebakaran sangat ditentukan oleh kecepatan tiba di lokasi. Idealnya, petugas harus sudah berada di tempat kejadian dalam waktu 10 hingga 15 menit. Jika melebihi batas tersebut, potensi api sulit dikendalikan akan semakin besar.
“Kendaraan kami kan besar-besar semua. Kalau lewat jalur alternatif akan lebih lama nanti,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



