Ada Tiga Perbedaan Awal Ramadan 1447 H di Kabupaten Bondowoso
TIMES Bondowoso/Jemaah Al Islah saat melaksanakan kegiatan keagamaan di Masjid Kembar Al Islah pada awal mereka melaksanakan ibadah puasa Ramadan 1447 H (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)

Ada Tiga Perbedaan Awal Ramadan 1447 H di Kabupaten Bondowoso

i Kabupaten Bondowoso Jawa Timur, ada tiga perbedaan awal Ramadan 1447 H. Sehingga warga memulai puasa pertama di tiga hari berbeda.

TIMES Bondowoso,Rabu 18 Februari 2026, 13:49 WIB
1.4K
M
Moh Bahri

BONDOWOSODi Kabupaten Bondowoso Jawa Timur, ada tiga perbedaan awal Ramadan 1447 H. Sehingga warga memulai puasa pertama di tiga hari berbeda. 

Sejumlah warga sudah ada yang mulai puasa pertama pada Selasa 17 Februari 2026, kemudian sebagian umat Islam yang lain mengawali puasa pada hari ini, Rabu (18/2/2026). 

Sementara sebagian besar lainnya baru melaksanakan ibadah puasa pertama pada besok, Kamis (19/2/2026). 

Warga Bondowoso yang mulai melaksanakan ibadah puasa Hari Selasa merupakan santri dan jemaah Mahfilud Duror. 

Adapun yang mulai puasa Rabu adalah jemaah Muhammadiyah dan jemaah Pondok Pesantren Al Islah Bondowoso. 

Sementara warga Bondowoso yang berpuasa mulai Kamis 19 Februari adalah warga yang ikut keputusan pemerintah dan jemaah Nahdlatul Ulama (NU). 

Jemaah Mahfilud Duror

Ustaz Hilmi adalah salah satu santri Mahfilud Duror yang tinggal di Maesan Bondowoso. Ia dan keluarganya melaksanakan salat tarawih Senin (16/2/2026) malam dan memulai puasa besok harinya.

“Kami sekeluarga, termasuk ayah, ibu, dan adik, sudah mulai puasa Selasa. Di wilayah selatan Kecamatan Maesan juga banyak alumni Mahfilud Duror puasa bersamaan,” ujarnya. 

Menurut Hilmi, penentuan 1 Ramadan di lingkungan Mahfilud Duror tidak menggunakan metode rukyatul hilal maupun hisab sebagaimana yang umum dipakai pemerintah. Mereka menggunakan sistem yang disebut khumasi.

Khumasi berarti lima, yakni perhitungan yang didasarkan pada selisih lima hari dari awal Ramadan tahun sebelumnya.

Sebagai contoh, jika awal Ramadan tahun lalu jatuh pada hari Jumat, maka dihitung lima hari setelahnya. Jumat, Sabtu, Minggu, Senin, Selasa. Dengan demikian, awal Ramadan tahun ini ditetapkan pada hari Selasa.

“Bahkan untuk tahun depan sudah bisa diperkirakan. Kalau sekarang jatuh pada Selasa. Maka lima hari setelahnya adalah Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu. Berarti awal Ramadan tahun depan akan jatuh pada hari Sabtu,” jelasnya.

Tradisi ini merujuk pada kitab Nushatul Majaalis karya Syekh Abdurrahman As Shufuri As Syafi’i. Metode tersebut, menurut Hilmi, telah dijalankan selama kurang lebih 195 tahun.

Dengan sistem khumasi, pelaksanaan puasa selalu berlangsung genap 30 hari. Karena itu, Hari Raya Idul Fitri versi jamaah Mahfilud Duror umumnya lebih awal dibandingkan pemerintah.

Meski demikian lanjut dia, dalam kondisi tertentu bisa saja bertepatan apabila puasa versi pemerintah berlangsung kurang dari 30 hari.

Jemaah Al Islah dan Muhammadiyah

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Islah, KH Thoha Yusuf Zakaria, memastikan awal Ramadan 1447 Hijriah di lingkungan pesantrennya akan dimulai pada Selasa, 18 Februari 2026.

Penetapan tersebut didasarkan pada metode rukyatul hilal yang merujuk pada hasil pemantauan hilal di Makkah Al-Mukarramah.

Menurut KH Thoha, pihaknya juga menjadikan Kalender Ummul Qura Arab Saudi sebagai salah satu acuan, karena dinilai konsisten dalam sistem perhitungan fase bulan. Selain itu, perhitungan hisab Muhammadiyah turut menjadi pertimbangan dalam menentukan awal bulan suci.

“Kami mengikuti rukyatul hilal Makkah yang sejalan dengan Kalender Ummul Qura dan juga hisab Muhammadiyah. Awal Ramadan kami laksanakan pada 18 Februari,” katanya. 

Meski telah menetapkan awal Ramadan berdasarkan metode yang diyakini, KH Thoha menegaskan pihaknya tetap menghormati keputusan pemerintah.

“Kami tetap menghormati hasil sidang isbat pemerintah. Namun, untuk pelaksanaan ibadah puasa, kami konsisten memulai pada 18 Februari 2026 sesuai metode yang kami gunakan,” tegasnya.

Warga Nahdlatul Ulama

Sementara warga NU dan sebagian warga Bondowoso lainnya baru akan berpuasa pada Kamis (19/2/2026). 

Ketua Lembaga Falakiyah PCNU Bondowoso yang juga menjabat sebagai Kasi Bimas Islam Kemenag Bondowoso, Suharyono menjelaskan, secara perhitungan hisab, posisi hilal pada 17 Februari 2026 memang berada di bawah ufuk.

“Berdasarkan hisab, di wilayah Bondowoso ketinggian hilal berada pada minus 1 derajat. Artinya, secara teori dan ilmu falak, hilal tidak mungkin terlihat,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Bondowoso. Secara nasional, posisi hilal di seluruh Indonesia, mulai dari wilayah timur hingga barat, masih berada pada rentang minus 3 derajat hingga minus 1 derajat. 

Dengan posisi demikian kata dia, peluang terlihatnya hilal dinilai sangat kecil bahkan tidak memungkinkan.

“Atas dasar itu, secara keilmuan dapat disimpulkan hilal tidak dapat dirukyat. Maka bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari,” ujarnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Moh Bahri
|
Editor:Ferry Agusta Satrio

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Bondowoso, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.