Dinsos Bondowoso Ada Puluhan Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan hingga Mei 2026
Ilustrasi - Kekerasan terhadap anak di Bondowoso (FOTO: Ham for TIMES Indonesia)

Dinsos Bondowoso Ada Puluhan Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan hingga Mei 2026

Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Bondowoso masih menjadi perhatian serius.

TIMES Bondowoso,Selasa 12 Mei 2026, 14:56 WIB
589
M
Moh Bahri

BONDOWOSOKasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Bondowoso masih menjadi perhatian serius. Hingga awal Mei 2026, Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) mencatat sedikitnya 57 kasus telah ditangani.

Kasus-kasus tersebut ditangani bersama oleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) bersama Unit PPA Polres Bondowoso. Jumlah itu dinilai cukup tinggi karena tahun berjalan baru memasuki bulan kelima.

Meski demikian, meningkatnya angka laporan disebut bukan semata karena kasus bertambah, tetapi juga karena kesadaran masyarakat untuk melapor mulai tumbuh. 

Warga dinilai semakin percaya terhadap layanan pendampingan yang diberikan pemerintah dan aparat penegak hukum.

“Kalau selama ini ya, ini trendnya memang meningkat. Karena kepercayaan masyarakat terhadap kami (Satgas PPA, red) meningkat,” tutur Hafidhatullaily, Kabid P3A Dinsos P3AKB Bondowoso.

Dari puluhan kasus tersebut, kekerasan terhadap anak menjadi salah satu yang paling banyak ditemukan. Bentuknya meliputi kekerasan fisik, kekerasan seksual, hingga penemuan bayi.

“Kalau anak ya, anak itu rata-rata kekerasan, kekerasan fisik, juga kekerasan seksual, penemuan bayi juga ya,” katanya, Selasa (12/5/2026). 

Data penanganan menunjukkan sekitar 22 kasus melibatkan anak. Sementara kasus terhadap perempuan tercatat sekitar 28 perkara yang mayoritas berupa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan seksual.

Tingginya jumlah kasus membuat Satgas PPA bersama Dinsos P3AKB terus memperkuat langkah penanganan dan pencegahan. Selain melakukan pendampingan terhadap korban, pemerintah juga menggencarkan sosialisasi agar masyarakat lebih peka terhadap potensi kekerasan di lingkungan sekitar.

“Kalau kami pencegahan, ya dengan tetap sosialisasi secara masif,” jelasnya.

Setiap laporan yang masuk langsung ditindaklanjuti melalui asesmen bersama aparat penegak hukum. Korban mendapat pendampingan sejak proses awal hingga tahap pemulihan psikologis jika diperlukan. Pemerintah juga menyediakan layanan psikolog dan psikiater tanpa biaya bagi korban.

Menurut Hafidhatullaily, meningkatnya laporan justru menjadi tanda bahwa masyarakat mulai berani bersuara dan tidak lagi memilih diam ketika mengalami atau mengetahui tindak kekerasan.

“Ya memang kesadaran masyarakat untuk melaporkan itu sudah meningkat,” katanya.

Ia pun meminta masyarakat tidak lagi menekan korban ataupun menutup-nutupi kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan sekitar.

“Jangan sampai korban-korban ini sudah jadi korban, terus dia juga ditekan, takut untuk speak up,” pungkasnya. (*) 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Moh Bahri
|
Editor:Imadudin Muhammad

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Bondowoso, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.