Ada Tiga Perbedaan Awal Ramadan di Bondowoso, Kemenag Pastikan Warga Hormati Perbedaan
Pada Ramadan 1447 Hijriah terjadi tiga perbedaan awal Ramadan di Bondowoso. Jemaah Mahfilud Duror multi puasa pada Selasa 17 Februari. Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan pada Rabu 18 Februari.
BONDOWOSO – Pada Ramadan 1447 Hijriah terjadi tiga perbedaan awal Ramadan di Bondowoso. Jemaah Mahfilud Duror multi puasa pada Selasa 17 Februari. Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan pada Rabu 18 Februari.
Sementara Nahdlatul Ulama dan sebagian besar warga Kabupaten Bondowoso mulai berpuasa hari ini, Kamis (19/2/2026).
Namun di tengah perbedaan ini, warga Bondowoso tetap saling menghargai perbedaan tersebut. Bahkan kondisi seperti ini Sudah berlangsung di tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Kantor Kemenag Bondowoso, M. Ali Masyhur mengimbau, masyarakat agar tetap menjaga suasana kondusif dan saling menghormati apabila terdapat perbedaan dalam penetapan 1 Ramadan.
Menurutnya, perbedaan metode penentuan awal bulan hijriah, baik melalui hisab maupun rukyat, merupakan bagian dari dinamika keilmuan Islam yang telah lama berkembang di Indonesia.
“Perbedaan dalam penetapan awal Ramadan adalah hal yang wajar. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya dengan bijak dan tetap menghormati satu sama lain,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Cak Ali itu menekankan agar perbedaan tidak sampai menimbulkan gesekan sosial di tengah masyarakat. Ia berharap momentum Ramadan justru menjadi sarana memperkuat ukhuwah dan mempererat hubungan antarsesama umat Islam.
“Jangan sampai perbedaan tanggal justru memecah persaudaraan. Ramadan adalah bulan untuk memperbaiki diri dan mempererat kebersamaan,” tegasnya.
Secara nasional kaya dia, pemerintah akan menetapkan awal Ramadan melalui sidang isbat yang melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam dan para ahli. Hasil sidang tersebut kemudian diumumkan secara resmi dan menjadi pedoman bagi masyarakat luas.
Ali menilai, kedewasaan umat Islam tercermin dari cara menyikapi perbedaan yang ada. Baginya, Ramadan seharusnya menjadi momentum memperkuat persatuan, bukan memperuncing perbedaan.
“Semangat ibadah jangan sampai terganggu oleh perdebatan yang tidak perlu. Mari kita sambut Ramadan dengan hati yang lapang dan penuh kebersamaan,” pungkasnya.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




