Di Bondowoso Ada Tradisi Antar Baju Lebaran untuk Tunangan di Malam Idul Fitri
Anak muda yang sudah bertunangan akan menjadi hari yang spesial. Sebagian warga di Bondowoso masih mempertahankan tradisi mengantar baju Lebaran kepada tunangan.
BONDOWOSO – Hari Raya Idul Fitri tidak hanya sekedar perayaan usai tuntas melaksanakan ibadah puasa Ramadan. Tapi bagi anak muda yang sudah bertunangan akan menjadi hari yang spesial.
Sebagian warga di Bondowoso masih mempertahankan tradisi mengantar baju Lebaran kepada tunangan.
Tradisi ini biasanya dilakukan oleh pihak laki-laki kepada calon mempelai perempuan sebagai bentuk perhatian sekaligus tanda keseriusan.
Begitu juga sebaliknya, calon pasangan wanita juga memberikan kado baju lebaran untuk calon suaminya. Tapi baju dari pasangan perempuan diantar jauh sebelum lebaran. Biasanya kadonya berupa baju, sarung atau celana, songkok, sandal dan rokok.
Pada malam takbiran, keluarga atau kerabat dari pihak laki-laki datang ke rumah tunangan dengan membawa paket berisi baju Lebaran lengkap.
Umumnya tidak hanya pakaian, tetapi juga dilengkapi dengan kue kering, buah, perlengkapan ibadah seperti mukena atau sajadah dan peralatan make up.
Salah satu warga Maesan Bondowoso, Riskiyah Istigfarini mengatakan, tradisi tersebut sudah dilakukan turun-temurun di lingkungannya.
Menurutnya, momen itu menjadi salah satu cara mempererat hubungan antara dua keluarga sebelum resmi menjadi pasangan suami istri.
“Biasanya dibawa setelah berbuka puasa atau menjelang malam takbiran. Isinya baju Lebaran, kadang juga sandal atau tas. Ini sebagai tanda perhatian kepada tunangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, meski zaman sudah semakin maju, tradisi ini masih dilakukan oleh banyak keluarga. Bahkan, sebagian masyarakat kini mengemasnya lebih menarik dengan hiasan kotak atau bingkisan khusus.
Selain menjadi simbol perhatian, tradisi antar baju Lebaran juga menjadi ajang silaturahmi antar keluarga calon pengantin. Pertemuan tersebut sering dimanfaatkan untuk mempererat hubungan sekaligus berbincang santai menjelang hari raya.
Tokoh masyarakat sekaligus guru ngaji setempat, Ustaz Fatah menyebut tradisi tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal yang masih bertahan di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, tradisi ini tidak sekadar memberikan hadiah, tetapi juga mengandung nilai penghormatan kepada calon pasangan.
“Intinya bukan soal nilai barangnya, tetapi niat untuk membahagiakan pasangan dan menjaga hubungan baik antar keluarga,” katanya.
Ia berharap tradisi seperti ini terus terjaga di tengah berkembangnya teknologi seperti HP. “Sekarang makan Idul Fitri ini sudah berkurang karena ada HP, sehingga jarang orang bersilaturahmi,” pungkasnya.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


