TIMES BONDOWOSO, BONDOWOSO – Harga kopi di Kabupaten Bondowoso mengalami kenaikan signifikan dalam dua bulan terakhir. Lonjakan harga ini dirasakan hampir di seluruh jenis kopi, baik arabika maupun robusta. Bahkan disebut-sebut sebagai yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Sejumlah pelaku usaha kopi menyebutkan, harga kopi arabika green bean kini berada di kisaran Rp165 ribu hingga Rp170 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya, harga kopi jenis ini masih stabil di angka sekitar Rp120 ribu per kilogram.
Tak hanya arabika, kopi robusta juga mengalami tren kenaikan. Saat ini harga robusta menyentuh Rp65 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram.
Kenaikan harga tersebut berlangsung secara bertahap, mulai dari Rp40 ribu, naik ke Rp50 ribu, Rp60 ribu, hingga mencapai harga tertinggi saat ini.
Pengusaha kopi sekaligus Owner Kopi Bulan Madu, Muhlis Adi Rangkul mengatakan, kenaikan harga dipicu oleh menipisnya stok kopi di tingkat petani. Bahkan, sebagian petani sudah kehabisan stok karena hasil panen mereka lebih dulu terserap pasar.
Sebagaimana hukum pasar kata dia, saat barang sedikit otomatis harga naik. Namun demikian kata dia, harga kopi saat ini memang tidak normal.
“Biasanya kenaikan hanya sekitar Rp10 ribu, sekarang bisa sampai Rp40 ribu per kilogram,” kata pria asal Sumenep Madura itu, Senin (19/1/2026).
Muhlis mengungkapkan, faktor cuaca turut memengaruhi produksi kopi. Namun cuaav bukan satu-satunya penyebab. “Kondisi stok yang tipis menjadi faktor dominan dalam lonjakan harga saat ini,” imbuhnya.
Muhlis mengaku rutin membeli kopi dari petani di Kecamatan Ijen dengan jumlah sekitar 1 hingga 2 kuintal per minggu. Pembelian dilakukan melalui toko penampung kopi milik petani.
Sementara itu lanjut dia, gudang-gudang besar kini lebih banyak melayani pembelian dalam jumlah kecil dengan batas minimal tertentu.
“Sekarang minimal pembelian satu kuintal. Dulu gudang beli dengan harga murah, sekarang dikeluarkan dengan harga mahal. Apalagi harga kopi dunia juga sedang tinggi,” jelasnya.
Meski harga bahan baku melonjak, Muhlis memilih tidak menaikkan harga jual produk kopi bubuknya. Ia tetap memasarkan kopi arabika bubuk seharga Rp240 ribu per kilogram demi menjaga daya beli konsumen.
Sikap serupa juga disampaikan Bu Saleh, pemilik Kopi Raisa. Ia mengaku tetap mempertahankan harga jual normal meski keuntungan yang diperoleh semakin menipis.
“Saya tetap jual Rp40 ribu sampai Rp60 ribu per pack kopi bubuk arabika. Tidak dinaikkan, kasihan konsumen,” katanya.
Menurut Bu Saleh, kenaikan harga kopi memang kerap terjadi menjelang akhir musim panen, terutama pada periode November hingga Desember.
Meski demikian, ia bersyukur karena konsumennya tetap setia, bahkan berasal dari berbagai daerah seperti Jakarta dan Bandung.
“Dengan kondisi ini, kami pelaku usaha kopi di Bondowoso berharap stabilitas harga segera kembali agar keberlangsungan usaha dan daya beli masyarakat tetap terjaga,” pungkasnya. (*)
| Pewarta | : Moh Bahri |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |