TIMES BONDOWOSO, BONDOWOSO – Bupati Bondowoso Abd Hamid Wahid, Wabup As'ad Yahya Syafi'i, Ketua DPRD Ahmad Dhafir dan OPD terkait meninjau langsung lokasi banjir di Desa Cermee Kecamatan Cermee, Senin (12/1/2026).
Banjir melanda wilayah itu pada Minggu (11/1/2026) malam. Salah satu titik banjir yang paling parah ada di Pasar Cermee. Pantauan di loaksi, masih terdapat sisa lumpur di toko milik pedagang. Tampak juga pedagang membersihkan air sisa banjir.
Tidak hanya masuk ke dalam toko, air juga merusak jalan yang baru diaspal sekitar dua bulan lalu. Sementara di kanan kiri jalan, drainase penuh lumpur, sampah dan tumbuhan.
Plt Kepala Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi Bondowoso, Ansori menjelaskan, aspal ini baru satu atau sekitar dua bulan lalu selesai. Namun ia memastikan, titik yang rusak murni karena diterjang air.
Menurutnya, hal itu bisa dilihat dari kondisi aspal yang terangkat. Kondisi ini disebabkan drainase kanan dan kirinya tidak bisa menampung air, sehingga air masuk lewat bawah aspal.
“Bukan karena pekerjaan, baik penanganan, rehab dan rekonstruksi jalannya tapi air memang banter,” katanya.
Ia juga mengungkapkan, selain karena arus air yang kencang, drainase menjadi faktor utama penyebab banjir. Ditambah lagi kata dia, air di hulu dibuka seketika sehingga air meluap. Bahkan ada titik aspal seperti mengeluarkan sumber air.
Pekerjaan aspal ini sudah selesai 100 persen di akhir tahun 2025 kemarin. Ansori memastikan, kualitas aspal sudah sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan.
Menurutnya, untuk sementara waktu jalan yang rusak akan diratakan dulu untuk memastikan pengguna jalan tetap nyaman. Selanjutnya pihak dinas, PPTK atau tim teknis akan memperbaikinya, karena masih dalam masa pemeliharaan.
Ia juga memaparkan, untuk normalisasi drainase di ruas jalan tersebut dibutuhkan anggaran sekitar Rp 2 miliar, karena yang drainase yang diperbaiki berada di sisi kanan dan kiri jalan, dan direncanakan menggunakan box culvert.
Namun mengingat anggaran belum direncanakan dan belum bisa direalisasikan di APBD awal tahun ini, maka dirinya bersama camat, kepala desa setempat dan tokoh masyarakat tetap ada upaya normalisasi.
Sebab lanjut dia, setelah dilakukan pengamatan ada jalan keluar masuk (JKM) yang posisinya sangat rendah dan menghambat laju air. Akibatnya air masuk ke jalan, apalagi debit airnya sangat besar.
“Kita keruk sementara untuk normalisasi. JKM itu seharus di atas saluran. Bukan malah mempersempit jalannya air. Masyarakat harus sama-sama menjaga,” imbaunya.
Ansori juga memaparkan, jalan yang baru direkonstruksi di ruas itu sepanjang 228 meter dengan lebar 4 meter. Sementara yang rusak akibat banjir sekitar 20 meter. “Ada dua paket, APBD awal dan PAPBD,” pungkasnya. (*)
| Pewarta | : Moh Bahri |
| Editor | : Imadudin Muhammad |