https://bondowoso.times.co.id/
Opini

Tri Darma Pondok Pesantren dalam Kabut Disrupsi

Minggu, 30 November 2025 - 19:21
Tri Darma Pondok Pesantren dalam Kabut Disrupsi Saifullah, Mahasiswa S3 Prodi Studi Islam UNUJA Paiton dan Dosen Prodi HKI STIS Darul Falah Bondowoso.

TIMES BONDOWOSO, BONDOWOSO – Pesantren selalu hadir sebagai rumah sunyi yang menyimpan gema panjang peradaban Nusantara. Dalam bahasa Kiai Sahal Mahfudz, pesantren adalah “menara tradisi yang memancarkan cahaya ke tengah perubahan zaman.” 

Di tengah dunia yang terus bergerak liar oleh digitalisasi, disrupsi, dan percepatan peradaban, pesantren tetap menjadi ruang yang stabil penghubung antara masa lalu yang sakral, masa kini yang runcing, dan masa depan yang belum terbentuk.

Guncangan internal dalam tubuh Nahdlatul Ulama beberapa waktu terakhir juga menjadi latar yang tak mungkin diabaikan. Kegaduhan itu bukan sekadar polemik organisasi, tetapi resonansi dari pergulatan zaman: antara tradisi dan modernitas, kesunyian dan hingar-bingar publik, keluhuran adab dan logika kompetisi. 

Di tengah turbulensi itu, pesantren tetap ditempatkan sebagai “penjaga keseimbangan moral bangsa,” sebagaimana pernah ditegaskan Gus Dur. Penjagaan itu berpijak pada Tri Darma Pondok Pesantren: pengajaran, pengabdian, dan pelestarian turats.

Tri Darma bukan sekadar jargon administratif. Ia adalah jantung peradaban pesantren yang membuatnya bukan hanya bertahan, tetapi tumbuh dan memanusiakan.

Pengajaran di pesantren bukan sekadar transfer materi. Ia adalah perjumpaan dua cahaya: cahaya guru dan cahaya murid. Dalam tradisi tasawuf, ittishal al-qulub pertautan hati menjadi prasyarat hidupnya ilmu. Karena itu Imam al-Ghazali menulis, “Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada hati yang gelap.”

Ketika algoritma digital mendorong pembelajaran instan dan serba cepat, pesantren justru memilih jalan sebaliknya: kedalaman melalui kesabaran, talaqqi, musyawarah, pengulangan, dan keteladanan guru sebagai sumber legitimasi moral. Kiai Mustofa Bisri mengingatkan, “Ilmu yang tidak membuatmu manusia, bukanlah ilmu yang bermanfaat.” Pesantren menjaga agar ilmu kembali pada fitrahnya: memanusiakan manusia.

Bagi Paulo Freire, pendidikan modern sering “mengubah manusia menjadi wadah kosong yang harus diisi.” Pesantren membalik paradigma itu: santri bukan wadah, melainkan jiwa yang dituntun bukan dipaksa mengikuti logika dunia, tetapi diarahkan untuk menemukan makna dan kompas moral dalam dirinya. Karena itu, dalam era disrupsi, pengajaran pesantren justru semakin relevan: ia tidak hanya mencetak manusia pintar, tetapi manusia yang tidak tercerabut.

Ketika Laku Sosial Menjadi Laku Spiritual

Pengabdian dalam tradisi pesantren bukan kinerja sosial biasa. Ia lahir dari kesadaran spiritual bahwa manusia hidup untuk keberlanjutan kebaikan bersama (al-mashlahah al-‘āmmah). Tidak berlebihan bila Mbah Maimoen Zubair menyebut, “Kiai itu tempat orang pulang ketika dunia sedang tidak ramah.”

Dalam masyarakat yang retak oleh konflik identitas, polarisasi politik, dan intoleransi digital, pesantren hadir sebagai ruang pemersatu. Pengabdian mereka terwujud dalam pelayanan keagamaan, pemberdayaan ekonomi, mediasi konflik, pendidikan sosial, hingga menjadi penyangga keseimbangan psikologis masyarakat ketika negara kehilangan kepekaan.

Emmanuel Levinas menulis, “Etika adalah perjumpaan dengan wajah yang lain.” Pengabdian pesantren adalah perjumpaan itu: antara diri, masyarakat, dan Yang Ilahi melalui tindakan nyata. Bahkan ketika organisasi keagamaan terbesar pun bergejolak, pesantren tetap berjalan. Ia seperti akar bambu yang tak terlihat, namun diam-diam menjaga tanah agar tidak longsor.

Turats warisan keilmuan Islam klasik bukan sekadar teks kuning yang menghuni rak-rak kitab. Ia adalah ingatan kolektif umat Islam, jejak intelektual para ulama besar seperti Imam Nawawi, Imam Syafi’i, dan Ibn ‘Aṭa’illah. Melalui turats, hidup karakter Islam Nusantara: moderat, inklusif, lembut, kokoh, dan berakar kuat.

Di zaman ketika masyarakat memuja kebaruan, tradisi sering dianggap penghambat. Padahal, seperti kata T.S. Eliot, tradisi bukan penjara kreativitas, melainkan “sumber dari mana kreativitas memperoleh bentuk.” 

Pesantren menghidupkan kesadaran itu. Turats bukan nostalgia, melainkan sumber energi peradaban posisi yang menjadikannya penuntun di tengah krisis makna dan derasnya informasi yang miskin kebijaksanaan.

Dinamika internal NU justru menunjukkan pentingnya turats sebagai jangkar. Tanpa akar, pohon tumbang. Tanpa turats, organisasi kehilangan arah bangsa pun demikian.

Pernyataan Kiai Sahal Mahfudz adalah refleksi paling tepat: “Pesantren bukan hanya tempat belajar, tapi tempat menemukan kembali kemanusiaan.” Ketika manusia modern kehilangan dirinya dalam arus informasi, pesantren justru menemukan relevansinya yang sejati.

Tri Darma Pondok Pesantren pengajaran, pengabdian, dan pelestarian turats adalah fondasi yang membuat pesantren tetap berdiri di tengah disrupsi, bahkan saat dunia terbelah oleh kecepatan perubahan. Ia adalah jalan sunyi peradaban: tidak membutuhkan sorotan, tetapi tanpa itu bangsa akan berjalan dalam kegelapan.

Sebagaimana Jalaluddin Rumi menulis, “Di tempat yang paling sunyi, di situlah cahaya bekerja paling tekun.” Dan pesantren tempat paling sunyi itu masih terus menjaga cahaya untuk negeri ini.

***

*) Oleh : Saifullah, Mahasiswa S3 Prodi Studi Islam UNUJA Paiton dan Dosen Prodi HKI STIS Darul Falah Bondowoso.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Bondowoso just now

Welcome to TIMES Bondowoso

TIMES Bondowoso is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.